MERAIH HIDUP BAHAGIA

1. IMAN DAN AMAL SALEH

Sarana yang paling utama dan paling mendasar

dalam masalah ini adalah beriman kepada Allah dan

beramal Shaleh. Firman Allah ta’ala:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik

laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,

maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya

kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri

balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih

baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:

97).

Allah ta’ala mengabarkan dan menjanjikan bagi

siapa saja yang menggabungkan antara iman dan

amal shaleh dengan kehidupan yang baik di dunia ini

serta balasan kebaikan di dunia dan akhirat.

Sebabnya jelas, karena orang-orang yang beriman

kepada Allah ta’ala dengan iman yang benar dan

berbuat amal shaleh yang dapat memperbaiki hati,

akhlak, dunia dan akhirat, mereka memiliki pijakan

dan landasan tempat menerima semua apa yang

datang kepada mereka, baik yang berbentuk

kebahagiaan dan kesenangan atau penderitaan dan

kesedihan.

Jika mereka mendapatkan sesuatu yang dicintai

dan disenangi, mereka menerimanya dengan rasa

syukur serta menggunakannya sesuai fungsinya, dan

jika mereka menggunakannya atas dasar tersebut

maka timbullah perasaan gembira seraya berharap

agar kebaikan tersebut tetap ada padanya dan

mengandung berkah serta berharap teraihnya pahala

karena dia termasuk orang-orang yang

mensyukurinya. Semua itu merupakan perkara yang

agung yang nilai dan berkahnya melebihi kebaikan

itu sendiri sekaligus merupakan buahnya.

Mereka juga menghadapi keburukan dan kesulitan

sesuai kemampuan yang mereka miliki, memperkecil

semampunya, sabar terhadap apa yang tak mungkin

mereka hindari. Dengan demikian, kesulitankesulitan

tersebut memberikan mereka pengalaman

dan kekuatan bagaimana menghadapi masalah.

Sabar dan berharap pahala atas apa yang dialami,

berdampak sangat besar atas hilangnya kesulitan,

berganti dengan kemudahan dan harapan yang baik,

keinginan akan karunia Allah dan ganjaran-Nya,

sebagaimana yang digambarkan Rasulullah e dalam

hadits shahihnya:

(( عَجَباً لأَمْرِ المُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّھُ خَیْرٌ إِنْ أَصَابَتْھُ سَ رَّاءُ شَ كَرَ

فَكَ انَ خَیْ راً لَ ھُ، وَإِنْ أَصَ ابَتْھُ ضَ رَّاءُ صَ بَرَ فَكَ انَ خَیْ راً لَ ھُ وَلَ یْسَ

ذَلِكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ ))

“Sesungguhnya perkara seorang mu’min itu

menakjubkan, karena semua perkara yang dialaminya

adalah baik; jika mendapatkan kesenangan dia

bersyukur, maka hal itu lebih baik baginya, jika

mengalami kesulitan dia bersabar, maka hal itu lebih

baik baginya, dan hal seperti itu tidak terdapat kecuali

pada diri seorang mu’min.” (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut Rasulullah e

menggambarkan bahwa seorang mu’min akan

berlipat-lipat kebaikan dan buah amalnya atas setiap

apa yang dialaminya.

Karena itu anda akan mendapatkan dua orang

yang mengalami hal serupa baik berupa kebaikan

ataupun keburukan, akan tetapi ada perbedaan yang

besar di antara keduanya dalam menerimanya. Hal

tersebut dapat terjadi, karena berbedanya iman dan

amal shaleh pada keduanya.

Yang pertama menerima kebaikan dan keburukan

sebagaimana yang telah kita sebutkan, yaitu dalam

bentuk syukur dan sabar dengan segala

konsekwensinya. Sehingga lahir pada dirinya

perasaan bahagia dan senang, hilangnya rasa gundah

gulana, perasaan tak tenang, kesempitan dada dan

kehidupan sengsara, semuanya berganti dengan

kehidupan bahagia di dunia ini.

Sementara yang lain menerima kesenangan dengan

sombong dan melampaui batas. Akhlaknya

menyimpang sehingga dia menerimanya bagaikan

hewan rakus yang kelaparan, namun demikian

hatinya tetap tidak tenang, bahkan gelisah dari

berbagai sisi, dari sisi ketakutan akan hilangnya

sesuatu yang dicintainya, dari banyaknya pertikaian

yang biasanya tumbuh dari hal tersebut, dari sisi

jiwanya yang tak puas-puasnya, bahkan

menginginkan hal-hal lainnya yang mungkin dapat

dia raih ataupun tidak. Walaupun seandainya dapat

diraihnya, itupun akan mengakibatkan kegelisahan

dari berbagai sisi yang telah disebutkan tadi.

Adapun jika mendapatkan kesulitan, dia

menerimanya dengan panik, ketakutan dan tidak

tenang. Jika demikian halnya, maka jangan tanya lagi

bagaimana sempit kehidupannya, banyak pikiran dan

tegang, ketakutan yang dapat mengakibatkan kondisi

lebih buruk dan lebih parah lagi. Karena semua itu

tidak dihadapi dengan mengharap pahala dari Allah,

juga tidak dengan kesabaran yang dapat

menghiburnya dan meringankan penderitaannya.

13

Semua itu dapat disaksikan lewat pengalaman.

Satu contoh, jika anda renungkan dan anda kaitkan

dengan realita yang ada, maka akan anda dapatkan

perbedaan yang besar antara seorang mu’min yang

mengamalkan semua tuntutan keimanannya dengan

mereka yang tak seperti itu. Hal itu karena agama

menyeru manusia untuk qana’ah (merasa cukup)

rizki Allah dan semua yang dialami seorang hamba

dari keutamaan dan karunia-Nya yang bermacammacam.

Seorang mu’min jika ditimpa penyakit atau

kefakiran atau musibah lainnya dimana setiap orang

memiliki kemungkinan itu, lalu dengan keimanannya

dia akan menerimanya dengan qana’ah dan ridha

atas pemberian Allah kepadanya, maka hatinya

menjadi tenang, tidak menuntut sesuatu yang dia

tidak mampu untuk meraihnya, dirinya selalu

melihat orang yang di bawahnya (yang lebih

menderita dari dia) dan tidak melihat orang yang di

atasnya (yang lebih senang darinya), bahkan bisa jadi

dia semakin bertambah senang dan gembira jika

melihat orang-orang yang dapat meraih keinginankeinginan

dunianya namun tidak memiliki sifat

qana’ah atas semua itu.

Begitu juga akan anda dapatkan orang-orang yang

tidak mejalankan nilai-nilai keimanan, manakala

mendapatkan cobaan seperti kefakiran atau luputnya

sebagian dari keinginan duniawinya, dia sangat putus

asa dan menderita.

Kasus lainnya: Ketika sebab-sebab ketakutan dan

kekalutan menghinggapi manusia, maka akan anda

dapati orang yang imannya benar, hatinya akan

mantap, jiwanya tenang, teguh dalam mencari

14

penyelesaian serta menyelesaikan masalah yang

menimpanya tersebut dengan keluasan yang

dimilikinya berupa pemikiran, perkataan dan

perbuatan. Dirinya telah kokoh menghadapai

gangguan yang menimpa. Kondisi seperti ini akan

membuat seseorang tenang dan hatinya mantap.

Sebagaimana akan anda dapatkan orang yang tak

memiliki keimanan, mengalami kondisi sebaliknya.

Jika mengalami ketakutan, hatinya menjadi tak

tenang, emosinya tak tekontrol, pikirannya kacaubalau

dan ketakutan menjalar dalam dirinya.

Sehingga dalam dirinya terkumpul ketakutan luardalam

yang sulit untuk diungkapkan. Orang

semacam ini jika belum pernah mendapatkan latihan

yang banyak dalam mengatasi permasalahan

berdasarkan sebab-sebab alami, akan meruntuhkan

kekuatan dan kejiwaannya, karena ketiadaan iman

yang mengarahkannya kepada kesabaran, khususnya

dalam kondisi terdesak dan sangat menyedihkan atau

menakutkan.

Orang baik dan orang jahat, orang beriman dan

orang kafir punya kemungkinan yang sama dalam

mewujudkan keberanian dan naluri untuk

memperkecil ketakutan, akan tetapi orang beriman

memiliki kelebihan berupa kekuatan iman, kesabaran

dan tawakkal kepada Allah, berpegang teguh kepada-

Nya dan mengharapkan pahala dari Allah ta’ala,

semua itu akan menambah keberaniannya,

meringankan beban ketakutannya dan memperkecil

pengaruh musibah. Sebagaimana Allah berfirman:

15

z`ÏB .cqã_ös?ur ( .cqßJs9ù’s? $yJx. .cqßJs9ù’t. óOßg¯RÎ*sù tbqßJs9ù’s? (#qçRqä3s? bÎ) â

á 3 .cqã_öt. .w $tB «!$#

“Jika kamu menderita kesakitan, maka

sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula

sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu

mengharap dari Allah, apa yang tidak mereka

harapkan.” (An-Nisa: 104).

Mereka juga akan mendapatkan pertolongan dan

bantuan khusus dari Allah ta’ala yang dapat

menghilangkan ketakutan:

á .úïÎ.É9»¢Á9$# yìtB ©!$# ¨bÎ) 4 (#ÿrã.É9ô¹$#ur â

“Dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah

bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46).

16

2. BERBUAT BAIK TERHADAP SESAMA

MAKHLUK

Termasuk yang dapat mengusir perasaan gundah

dan gelisah adalah berbuat baik kepada sesama

makhluk dengan ucapan, perbuatan serta berbagai

bentuk kebajikan.

Dengan kebaikan tersebut Allah akan

menghilangkan kesusahan baik dari orang beriman

ataupun orang kafir sesuai kadar kebaikannya. Akan

tetapi orang beriman memiliki bagian yang lebih

sempurna. Karena perbedaannya bersumber dari

keikhlasan dan harapan akan pahala Allah ta’ala.

Dengan modal tersebut Allah ringankan baginya

dalam mengerahkan tenaga untuk berbuat baik

karena ada kebaikan yang ingin diraih, Allah juga

ringankan baginya dalam mencegah keburukan

dengan penuh ikhlas dan harap akan pahala dari

Allah ta’ala.

÷rr& >$rã÷ètB ÷rr& >ps%y.|ÁÎ/ utBr& ô`tB .wÎ) öNßg1uqôf¯R `iÏB 9.ÏV.2 .Îû u.öyz .w * â

Ïm.Ï?÷sçR t$öq|¡sù «!$# ÏN$|ÊósD uä!$tóÏFö/$# y7Ï9¨.s ö@yèøÿt. `tBur 4 Ĩ$¨Y9$# .ú÷üt/ £x»n=ô¹Î)

á $\K.Ïàtã #·ô_r&

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikanbisikan

mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang

yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau

berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di

antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat

17

demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak

Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (An-

Nisa: 114).

Allah ta’ala telah mengabarkan bahwa semua

perkara yang disebutkan dalam ayat di atas adalah

kebaikan, dan kebaikan selalu mendatangkan

kebaikan berikutnya dan menolak keburukan.

Seseorang yang berharap dari Allah ta’ala akan selalu

Allah berikan kepadanya pahala yang banyak,

diantaranya: hilangnya perasaan gundah dan gelisah

dan kesulitan hidup lainnya.

3. SIBUK DENGAN PEKERJAAN ATAU ILMU YANG

BERMANFAAT

Termasuk hal yang dapat mengusir kegundahan

yang timbul dari kegamangan jiwa karena hati

disibukkan oleh urusan-urusan yang memberatkan

adalah dengan menyibukkan diri dengan sebuah

pekerjaan atau mendalami ilmu yang bermanfaat.

Dengan begitu dia akan melupakan apa yang selama

ini membebani dirinya dan yang selama ini

membuatnya gelisah. Maka kemudian jiwanya

menjadi tenang, semangatnya bertambah.

Sebab ini juga dapat terjadi pada diri seorang

beriman atau yang bukan beriman. Akan tetapi orang

beriman memiliki kelebihan karena keikhlasan dan

harapan akan pahala dari apa yang menyibukkan

dirinya, berupa ilmu yang dipelajari atau yang

diajarkan, begitu juga dengan kebaikan yang

dikerjakan. Jika hal tersebut berbentuk ibadah maka

nilainya adalah ibadah, jika merupakan kesibukan

18

atau kebiasaan dunia maka dia mengiringinya

dengan niat yang shalih dan membantunya dalam

beribadah kepada Allah. Hal tersebut sangat efektif

dalam mengusir kesedihan dan keluh-kesah.

Betapa banyak orang yang dirundung duka dan

gelisah sehingga dia ditimpa penyakit yang

bermacam-macam, maka obat mujarabnya adalah

“melupakan sebab-sebab yang selama ini

mengganggunya dan membuatnya gelisah serta

menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tugastugas”.

Dianjurkan agar perbuatan yang menyibukkan

dirinya adalah yang sesuai dengan seleranya dan

disenangi jiwanya, maka dengan begitu lebih

memungkinkan untuk mendatangkan manfaat yang

dia maksudkan. Wallahua’lam.

4. MEMUSATKAN PIKIRAN UNTUK MELAKUKAN

PEKERJAAN HARI INI DAN TIDAK DIHANTUI OLEH

PIKIRAN-PIKIRAN MASA DEPAN ATAU KESEDIHAN

MASA LALU

Termasuk yang dapat mengusir perasaan cemas

dan gelisah adalah memusatkan semua pikiran

untuk mengerjakan sebuah pekerjaan pada hari ini

dan memutuskan diri dari pikiran-pikiran yang akan

datang serta kesedihan atas waktu-waktu yang lalu.

Karena itu Rasulullah eberlindung dari Al-Hamm dan

Al-Hazn. Al-Hazn adalah perkara-perkara yang telah

lalu yang tidak mungkin diulang dan didapati

kembali, sedangkan Al-Hamm adalah sesuatu yang

diakibatkan oleh ketakutan pada masa yang akan

19

datang. Maka hendaklah seseorang menjadi manusia

hari ini, mengerahkan sekuat tenaga

kesungguhannya dalam memperbaiki hari dan

waktunya saat ini.

Memusatkan pikiran dalam masalah ini juga dapat

menyempurnakan sebuah perbuatan, di samping

menjadi penawar kesedihannya. Rasulullah e jika

berdoa atau mengajarkan umatnya untuk berdoa,

maka dia juga menganjurkan untuk minta

pertolongan dan keutamaan kepada Allah ta’ala atas

kesungguhannya dalam mewujudkan apa yang dia

mohonkan dalam doa-doanya. Dan juga

meninggalkan setiap yang tidak diinginkan dalam

doa-doanya karena doa seharusnya sesuai dengan

amal perbuatan. Seorang hamba yang bersungguhsungguh

untuk mendapatkan apa yang bermanfaat

baginya dalam urusan agama dan dunia akan

memohon kepada Rabb-nya kesuksesan yang

diinginkannya. Dan dia minta tolong kepada-Nya atas

hal tersebut:

(( اِحْ رِصْ عَلَ ى مَایَنْفَعُ كَ وَاسْ تَعِنْ بِ اللهِ وَلاَ تَعْجَ زْ، وَإِذَا أَصَ ابَكَ

شَيْءٌ فَلاَ تَقُل:ْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَ ذَا وَكَ ذَا وَلَكِ نْ قُ لْ قَ دَّرَ اللهُ

وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّیْطَانِ ))

“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat

untukmu, mintalah pertolongan Allah dan janganlah

engkau lemah. Jika ada sesuatu yang menimpamu,

maka jangan engkau katakan: Seandainya saya

kerjakan ini niscaya akan jadi begini dan begitu, akan

tetapi katakanlah bahwa Allah yang telah

menetapkannya, apa yang Dia kehendaki Dia

perbuat. Karena sesungguhnya (kata-kata)

20

“seandainya” membuka peluang bagi perbuatan

setan.” (HR. Muslim)

Rasulullah e –dalam hadits diatasmenggabungkan

antara perintah untuk berupaya

mendapatkan manfaat dalam setiap keadaan dengan

perintah meminta pertolongan kepada Allah serta

tidak tunduk terhadap kelemahan, yaitu kemalasan

yang merugikan dan menyerah terhadap perkaraperkara

yang telah berlalu serta menyaksikan

ketetapan Allah dan ketentuannya.

Beliau juga menjadikan sebuah perkara menjadi

dua bagian: Bagian dimana seorang hamba

memungkinkan baginya untuk meraihnya atau

meraih apa yang mungkinkan baginya, atau

menolaknya atau meringankannya, maka dalam hal

ini seorang hamba harus memperlihatkan

kesungguhannya dan minta tolong kepada Rabb-nya.

Bagian lain adalah bagian yang tidak mungkin

untuk itu, maka pada hal tersebut seorang hamba

harus tenang, ridha dan pasrah. Tidak diragukan lagi

bahwa berpedoman dengan kaidah ini merupakan

penyebab datangnya kesenangan dan hilangnya rasa

gundah dan resah.

5. MEMPERBANYAK ZIKIR

KEPADA ALLAH TA’ALA.

Berzikir pengaruhnya sangat menakjubkan dalam

mendatangkan kelapangan dada dan ketenangan

hati, menghilangkan rasa gundah dan resah. Allah

ta’ala berfirman:

21

á Ü>qè=à)ø9$# .ûÈõyJôÜs? «!$# ͍ò2É.Î/ .wr& â

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati

menjadi tentram.” (Ar-Ra’du: 28).

Dengan kekhususannya, zikir memberikan peran

yang besar untuk meraih semua yang diminta dan

apa yang diinginkan seorang hamba dalam bentuk

pahala dan ganjaran.

6. SERING MENYEBUT NIKMAT-NIKMAT ALLAH,

BAIK YANG NAMPAK MAUPUN TERSEMBUNYI

Mengenal nikmat-nikmat Allah dan selalu

menyebutnya merupakan salah satu faktor yang

dapat mengusir keresahan dan kesedihan,

mendorong seorang hamba untuk bersyukur yang hal

itu merupakan derajat syukur yang paling tinggi,

walaupun ia tertimpa kefakiran, sakit atau musibah

lainnya. Karena jika dia bandingkan antara nikmat

Allah kepadanya yang tidak terhitung baik kwantitas

ataupun kwalitasnya dengan apa yang dideritanya

dari berbagai kesulitan, niscaya kesulitan tersebut

tidak seberapa jika dibanding nikmat Allah ta’ala.

Justeru kesulitan dan musibah yang dihadapi

seorang hamba, lalu ia menghadapinya dengan

kesabaran, ridha dan menerima, niscaya akan

berkurang tekanannya, ringan bebannya dan

harapannya hanyalah pahala dan ganjaran dari Allah

ta’ala. Jadi beribadah kepada Allah dengan bersikap

sabar dan ridha akan menjadikan sesuatu yang pahit

22

menjadi manis, sehingga manisnya pahala akan

melupakan pahitnya kesabaran.

7. MELIHAT ORANG-ORANG YANG BERADA DI

BAWAHNYA DAN TIDAK MELIHAT ORANG YANG DI

ATASNYA.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

dalam hadits shahih:

(( اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ ھُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَ نْ ھُ وَ فَ وْقَكُمْ

فَإِنَّھُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَیْكُمْ ))

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan

janganlah melihat orang-orang yang berada di atas,

karena hal tersebut lebih memungkinkan untuk tidak

mengabaikan nikmat-nikmat Allah atas kalian.” (HR.

Bukhari dan Muslim).

Hal ini sangat besar manfaatnya dalam

menghilangkan perasaan gelisah dan sedih, karena

bila seseorang melihat pemandangan yang

menyedihkan yang menimpa seseorang di depan

matanya yang menimpa orang lain, maka dia akan

melihat dirinya jauh lebih beruntung, baik dalam

kesehatan dan segala sesuatu yang berkaitan

dengannya, atau dalan hal rizki betapapun

keadaannya sehingga hilanglah kegelisahan,

kegundahan dan keresahannya, bahkan semakin

bertambah dalam dirinya kegembiraan dan keinginan

terhadap nikmat-nikmat Allah ta’ala yang tak

diperoleh oleh orang-orang yang berada di bawahnya.

23

Maka setiap kali seorang hamba memperhatikan

nikmat-nikmat Allah, baik yang nampak ataupun

yang tersembunyi, baik dalam urusan agama

maupun dunia, dia akan melihat bahwa Rabbnya

telah memberinya kebaikan yang banyak dan

menjauhkannya dari aneka macam keburukan. Tidak

diragukan lagi bahwa hal semacam ini akan mampu

mengusir kegundahan dan keresahan serta

mendatangkan kebahagiaan dan kegembiraan.

8. MELUPAKAN BERBAGAI PENDERITAAN MASA

LALU YANG TIDAK DAPAT DITOLAK

Di antara upaya menyingkirkan sebab-sebab yang

mendatangkan kegelisahan dan meraih sebab–sebab

yang mendatangkan kebahagiaan adalah melupakan

berbagai kesulitan yang telah berlalu yang tidak

dapat ditolak. Dia harus memahami bahwa

menyibukkan diri dengan memikirkan hal tersebut

merupakan perbuatan orang bodoh yang sia-sia. Oleh

karena itu dia harus berusaha memalingkan hatinya

untuk tidak memusatkan pikiran terhadap masalah

tersebut dan agar tidak khawatir terhadap masa

depannya dari dugaan kefakiran dan ketakutan atau

kesulitan-kesulitan lain yang dia bayangkan.

Dia juga memahami bahwa kehidupan masa depan

tidak ada yang mengetahui, apakah dia akan

mengalami kebaikan atau keburukan, terpenuhinya

harapan atau kepedihan. Karena sesungguhnya

semua itu berada di tangan Yang Maha Perkasa dan

Bijaksana, manusia tidak berwenang sedikitpun di

dalamnya kecuali berusaha untuk mendapatkan

24

kebaikan masa depannya dan menghindari segala

sesuatu yang membahayakan. Seseorang yang

mengetahui bahwa ketenangan dapat diraih jika dia

menyingkirkan pikirannya dari kekhawatiran

terhadap masa depannya, kemudian bertawakkal

kepada Allah dengan memperbaiki nasib

kehidupannya, maka hatinya akan tenang,

kondisinya akan membaik serta rasa gundah dan

kekhawatiran dalam hatinya akan hilang.

9. BERDOA DENGAN DOA YANG DIPANJATKAN

RASULULLAH

Di antara doanya adalah:

(( اللَّھُمَّ أَصْلِحْ لِي دِینِيَ الَّذِي ھُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي

دُنْیَايَ الَّتِي فِیْھَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي إِلَیْھَا مَعَادِي

وَاجْعَلِ الْحَیَاةَ زِیَادَةً لِي فِي كُلِّ خَیْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ

شَرٍّ ))

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang

merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah bagiku

duniaku yang merupakan tempat kehidupanku,

perbaikilah akhiratku yang di sana tempat kembaliku,

jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk

menambah kebaikan, dan kematianku sebagai tempat

istirahat dari segala keburukan”. (HR. Muslim).

Demikian pula dengan doa berikut:

(( اللَّھُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِ ي إِلَ ى نَفْ سِي طَرْفَ ةَ عَ یْنٍ وَأَصْ لِحْ

لِي شَأْنِي كُلَّھُ، لاَ إِلَھَ إِلاَّ أَنْتَ ))

25

“Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, maka

janganlah Engkau serahkan (urusan)-ku kepada diriku

walau sekejap mata, perbaikilah semua urusanku,

tiada ilah selain Engkau.” (HR. Abu Daud dengan

sanad yang shahih).

Maka jika seorang hamba meratap dengan doa

tersebut yang di dalamnya terdapat kebaikan masa

depannya, baik agamanya maupun dunianya dengan

menghadirkan hati dan niat yang benar serta

kesungguhan bekerja untuk mewujudkannya,

niscaya akan Allah kabulkan doa, harapan dan

usahanya, hingga rasa gundah berganti dengan

kesenangan dan kegembiraan.

10. MEMPERKIRAKAN KEMUNGKINAN TERBURUK

YANG AKAN MENIMPANYA KEMUDIAN

MENGUATKAN DIRI UNTUK SIAP MENERIMANYA

Berupaya menganggap ringan beban kesulitan

yang ditanggungnya dengan memperkirakan

kemungkinan terburuk yang akan menimpanya,

kemudian dia kuatkan dirinya untuk menerima hal

tersebut. Jika hal tersebut telah dilakukan maka

selanjutnya dia berupaya untuk memperingan

problema yang dihadapi sedapat mungkin. Dengan

kemantapan jiwa dan upaya yang bermanfaat

tersebut, akan hilanglah perasaan gundah dan resah,

berganti dengan upaya nyata untuk mendatangkan

kemanfaatan dan menolak kesulitan yang mudah

bagi seorang hamba.

Jika hal tersebut mampu menggantikan penyebab

ketakutan, kepedihan dan kekhawatiran akan

26

kefakiran, karena kecintaannya terhadap aneka

ragam kesenangan, maka dia dapat menerima semua

itu dengan perasaan tenang dan kemantapan jiwa,

bahkan sekalipun musibahnya lebih hebat dari itu.

Karena kemantapan jiwa dalam menanggung

kesulitan dapat meringankan kesulitan itu sendiri

dan menghilangkan goncangannya, khususnya jika

dia menyibukkan dirinya dengan menyingkirkannya

sedapat mungkin. Maka dalam dirinya akan

berkumpul kemantapan jiwa dan upaya nyata untuk

mengatasi problemnya yang sekaligus dapat

menghindarinya dari sekedar memikirkan musibah

itu serta membantu dirinya untuk memperbaharui

kekuatan dalam mengatasi masalah seraya

bertawakkal dan percaya kepada Allah ta’ala.

Tidak diragukan lagi bahwa hal-hal semacam ini

sangat besar manfaatnya untuk meraih kebahagiaan

dan kelapangan dada di samping adanya harapan

seorang hamba atas ganjaran yang setimpal dari

Allah ta’ala baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini

dapat disaksikan dan dialami oleh banyak orang.

27

11. TIDAK PANIK DAN LARUT DALAM BAYANGANBAYANGAN

BURUK

Menenangkan hati dan tidak tenggelam pada

kepanikan atau bayangan dan pikiran-pikiran buruk

sangat besar pengaruhnya untuk menghindari

tekanan jiwa bahkan penyakit fisik. Karena jika

seseorang tenggelam dalam bayangan ketakutan, dan

hatinya terpengaruh oleh berbagai perubahan, baik

dari rasa takut akan penyakit atau yang lainnya,

marah dan perasaan tak menentu karena

memperkirakan terjadinya kesulitan dan hilangnya

berbagai kenikmatan. Semua itu dapat

mendatangkan perasaan gundah, penyakit hati dan

penyakit fisik serta ketegangan saraf yang dapat

berakibat buruk. Hal ini sering disaksikan.

12. BERGANTUNG KEPADA ALLAH DAN

BERTAWAKKAL KEPADANYA

Jika hati selalu bergantung kepada Allah,

bertawakkal kepada-Nya, tidak larut dalam bayangbayang

ketakutan serta pikiran-pikiran buruk diiringi

kepercayaan kepada Allah ta’ala seraya mengharap

karunia-Nya, maka semua itu akan mengusir

perasaan gundah dan sedih, dan menghilangkan

berbagai penyakit jiwa maupun fisik. Hati akan

kembali mendapatkan kekuatan, ketentraman dan

kebahagiaan yang tak terlukiskan.

Betapa banyak rumah sakit yang dipenuhi oleh

orang-orang yang sakit karena dihantui bayanganMeraih

Hidup Bahagia 28

bayangan buruk, betapa banyak masalah ini

mempengaruhi mereka-mereka yang kuat hatinya

apalagi jika dia orang lemah. Betapa hal ini sering

mendatangkan tindakan bodoh dan gila.

Orang yang sehat adalah orang yang Allah

sehatkan dan Allah berikan taufiq untuk berjuang

melawan hawa nafsunya untuk mendapatkan

sumber-sumber kekuatan bagi hatinya yang dapat

menyingkirkan kekhawatiran yang menimpanya.

Allah ta’ala berfirman:

á 4 ÿ¼çmç7ó¡xm uqßgsù «!$# .n?tã ö@ª.uqtGt. `tBur â

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah maka

niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”(At

Thalaq: ayat: 3).

Artinya: Allah mencukupkan segala keperluan

agama dan dunianya.

Orang yang bertawakkal kepada Allah, hatinya

kuat dan tidak terpengaruh oleh bayang-bayang

(ilusi) dan tidak goncang oleh berbagai kenyataan,

karena dia tahu bahwa sikap tersebut menunjukkan

kelemahan jiwa, ketakutan dan kegelisahan yang

tidak beralasan. Di samping itu diapun mengetahui

bahwa Allah ta’ala akan menanggung beban orang

yang bertawakkal kepadanya dengan kecukupan yang

sempurna. Maka dia percaya kepada Allah dan

tenang dengan janji-Nya sehingga hilanglah

kegelisahan dan kekhawatirannya, kesulitan berganti

kemudahan, kesedihan berganti kegembiraan dan

ketakutan berganti keamanan.

Kita mohon kepada Allah ta’ala kesehatan dan

keselamatan dan memberikan kita karunia berupa

29

kekuatan hati dan keteguhannya dengan tawakkal

yang sempurna yang dengan itu akan Allah tanggung

segala kebaikannya dan menyingkirkan segala

kesulitan dan keburukan yang menimpanya.

13. PANDAI DALAM BERGAUL

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لاَ یَفْرُكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْھَا خُلُقاً رَضِيَ مِنْھَ ا خُلُق ا آخَ رَ ))

“Hendaklah seorang mu’min laki-laki (suami) tidak

mencela mu’min wanita (istri), jika dia membenci salah

satu prilakunya, masih ada prilaku lainnya yang dia

ridhai.” (HR. Muslim).

Dalam hadits ini terdapat dua pelajaran yang

sangat bermanfaat:

Pelajaran pertama adalah: Petunjuk bagaimana

bergaul dengan istri, sanak saudara, kawan, karib

dan lingkungan pergaulan serta semua orang yang

antara anda dan dia memiliki hubungan dan

komunikasi. Anda harus menyadari bahwa pada diri

tiap-tiap orang pasti terdapat cela, kekurangan dan

sesuatu yang tidak disenangi. Maka jika hal tersebut

anda dapatkan, bandingkanlah antara hal itu dengan

adanya faktor-faktor yang mendukung anda untuk

tetap menjaga komunikasi dan saling mencintai,

yaitu dengan mengingat kebaikan-kebaikan dan niatniat

kebaikannya, baik yang bersifat khusus maupun

umum. Dengan melupakan keburukannya dan

mengingat kebaikannya, maka persahabatan dan

30

komunikasi akan tetap terjaga dan ketenanganpun

akan tercipta.

Pelajaran kedua adalah: Hilangnya perasaan

gundah dan resah, tetapnya kesucian hati serta

kesinambungan dalam menunaikan hak-hak orang

lain, baik yang wajib maupun yang sunnah serta

terciptanya keharmonisan di antara kedua belah

pihak.

Siapa yang tidak dapat mengambil pelajaran atas

apa yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu

‘alaihi wa sallam bahkan melakukan sebaliknya

dengan selalu melihat keburukan seorang serta

melupakan kebaikan-kebaikannya, niscaya dia akan

gelisah, hubungan antara dirinya dan orang yang

dicintainya pasti mengalami kekeruhan dan

mengabaikan banyak hak yang harus dijaga kedua

belah pihak.

Banyak orang yang memiliki kekuatan mental yang

tinggi mampu menahan diri saat menghadapi cobaan

dan goncangan dengan kesabaran dan ketenangan.

Akan tetapi dalam hal-hal yang sepele dan ringan

mereka sangat gundah dan tidak tenang.

Penyebabnya adalah mereka menjaga diri mereka

pada hal-hal yang besar dan mengabaikan hal-hal

sepele sehingga merusak kondisi mereka dan

ketenangan mereka.

Orang yang bermental kuat adalah mereka yang

mampu mengatasi masalah besar maupun kecil

seraya memohon pertolongan kepada Allah dan

berdoa kepada-Nya agar nasibnya tidak diserahkan

kepada dirinya walau sekejap mata, maka dengan

demikian akan mudah baginya perkara-perkara kecil

31

sebagaimana ringan baginya perkara-perkara besar,

sehingga jiwanya tenang dan hatinya lapang.

14. TIDAK TENGGELAM DALAM KESEDIHAN

MENDALAM

Orang yang berakal mengetahui bahwa kehidupan

yang sebenarnya adalah kehidupan yang berbahagia

nan tentram, dan bahwa waktunya sangat singkat

sekali. Maka tidak layak bagi seseorang untuk

membatasi kehidupannya dengan perasaan gundah

dan resah yang berkepanjangan karena semua itu

bertentangan dengan kehidupan yang sebenarnya,

dia merasa rugi sekali jika banyak bagian dari

kehidupannya dihabiskan dengan perasaan gundah

dan resah dan hal ini tidak ada bedanya antara orang

yang baik atau orang yang jahat. Akan tetapi orang

yang beriman lebih memiliki kemampuan yang besar

untuk mewujudkan sifat-sifat ini serta mendapatkan

ganjaran yang bermanfaat baik di dunia maupun di

akhirat.

15. MEMBANDINGKAN KENIKMATAN YANG

DITERIMA DENGAN KESULITAN YANG DIDERITA

Seseorang selayaknya jika ditimpa kesulitan atau

khawatir terhadapnya agar membandingkannya

antara kenikmatan yang telah dia raih baik dalam hal

agama maupun dunia dengan kesulitan yang ia

derita, maka akan dia dapatkan betapa jauh lebih

banyak kenikmatan dalam dirinya daripada kesulitan

dan musibah yang dia rasakan.

32

Begitu juga sebaiknya dia membandingkan antara

rasa khawatir akan berbagai kemungkinan buruk

yang akan menimpanya dengan kemungkinan

keselamatan darinya. Maka hendaknya dia tidak

mengabaikan kemungkinan yang lebih banyak dan

kuat (yang positif) demi membela kemungkinan yang

lemah (negatif), sehingga dengan demikian hilanglah

rasa gundah dan resahnya.

Diapun sebaiknya memperkirakan berbagai hal

yang lebih besar yang mungkin dapat menimpanya,

sehingga dia mempersiapkan diri jika memang hal itu

terjadi serta berupaya menghalau apa yang belum

terjadi atau menyingkirkan musibah yang telah

terlanjur terjadi atau memperkecilnya.

33

16. PERILAKU BURUK ORANG LAIN TERHADAP

ANDA SESUNGGUHNYA MERUGIKAN DIRINYA

SENDIRI

Hal bermanfaat yang dapat dilakukan berkaitan

dengan perilaku buruk orang lain terhadap anda –

khususnya yang berupa perkataan buruk- adalah

adanya keyakinan bahwa semua perbuatan itu tidak

merugikan anda, tetapi justru merugikan pelakunya

sendiri, kecuali jika anda juga disibukkan dengan

memikirkannya dan membiarkannya menguasai

perasaan anda, maka hal tersebut juga merugikan

anda sebagaimana merugikan pelakunya.

Jika anda tidak menghiraukan hal itu niscaya

tidak akan merugikan anda.

17. BERPIKIR POSITIF

Ketahuilah bahwa pola pikir anda akan

mempengaruhi kehidupan anda, jika pikiran anda

selalu tertuju kepada apa yang bermanfaat bagi

agama maupun dunia, maka hidup anda akan

bahagia dan sejahtera, jika tidak, maka anda akan

mengalami hal yang sebaliknya.

34

18. TIDAK MENGHARAP BALASAN DAN

PENGHORMATAN KECUALI DARI ALLAH

Hal bermanfaat dalam rangka mengusir

kegundahan dan kegelisahan adalah meyakinkan diri

anda untuk tidak meminta balasan dan

penghormatan kecuali dari Allah ta’ala atas kebaikan

yang anda berikan kepada mereka, baik kepada

mereka yang berhak mendapatkannya dari anda

ataupun tidak. Ketahuilah bahwa hal tersebut urusan

anda dengan Allah, jangan terlalu hiraukan pujian

dan penghargaan orang yang anda berikan kebaikan,

sebagaimana firman Allah ta’ala tentang makhluknya

yang paling disayangi-Nya:

á #·.qä3ä© .wur [ä!#u.y óOä3ZÏB ß..͍çR .w «!$# Ïmô_uqÏ9 ö/ä3ãKÏèôÜçR $oÿ©VÎ) â

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu

hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami

tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula

(ucapan) terima kasih.”(Al-Insan: 9).

Hal seperti itu lebih ditekankan lagi dalam

hubungan kita terhadap keluarga, anak-anak dan

mereka yang memiliki interaksi dengan anda. Ketika

anda camkan diri anda untuk tidak berbuat buruk

terhadap mereka, niscaya anda merasa tenang dan

tenteram.

Termasuk yang dapat membantu terciptanya

ketentraman hati adalah melakukan keutamaankeutamaan

amal perbuatan berdasarkan tuntutan

jiwa yang membuat anda gundah. Jika anda

menempuh jalan berliku-liku (jalan yang tidak benar)

maka itu akan membuat anda mundur ke belakang

35

tanpa membawa kebaikan sedikitpun. Hal tersebut

merupakan hikmah dimana anda dapat mengambil

sesuatu yang baik dan manis dari perkara-perkara

buruk, dengan begitu maka kelezatan akan semakin

bertambah dan kekeruhan akan hilang dari diri anda.

19. MENJADIKAN SEMUA HAL BERMANFAAT DI

DEPAN MATA ANDA DAN BERUSAHA UNTUK

MEREALISASIKANNYA.

Jangan sekali-kali menengok kepada hal-hal yang

merugikan dan terlena dengannya, karena hal itu

dapat mendatangkan rasa gundah dan sedih, atasilah

dengan ketenangan dan memusatkan perhatian

dengan melakukan perbuatan yang bermanfaat.

20. MENGATASI SEBUAH MASALAH SAAT ITU JUGA

UNTUK KEMUDIAN BERKONSENTRASI TERHADAP

MASA DEPAN

Termasuk perkara yang bermanfaat adalah

langsung mengatasi sebuah masalah saat itu juga

untuk kemudian berkonsentrasi terhadap masa

depan, karena jika permasalahan itu tidak diatasi

segera, maka dia akan bertumpuk dengan

permasalahan-permasalahan yang telah lalu dan

yang akan datang, sehingga bebannya akan semakin

berat.

36

Jika semuanya segera diatasi pada waktunya,

maka anda dapat menghadapi masa depan dengan

pikiran yang terpusat dan tindakan yang tepat.

21. MENDAHULUKAN PERBUATAN YANG PALING

PENTING DAN PALING DISUKAI

Selayaknya anda memilih di antara perbuatan yang

bermanfaat tersebut, mana yang paling penting

dengan mendahulukan perbuatan yang disukai dan

lebih condong kepadanya. Karena jika tidak, akan

timbul kebosanan dan kekeruhan.

Carilah bantuan dengan berfikir positif dan

musyawarah, karena tidak akan menyesal orang yang

bermusyawarah, pelajari dengan teliti setiap tindakan

yang akan anda ambil, jika ternyata benar akan

mendatangkan kebaikan dan anda telah bertekad

maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya

Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.

والحمد لله رب العالمین

وصلى الله على سیدنا محمد وعلى آلھ وصحبھ وسلم

37

الوسائل المفيدة للحياة السعيدة

( باللغة الإندونیسیة )

تألیف:

الشیخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي

ترجمة:

عبد الله حیدر

مراجعة:

د. محمد معین بصري، محمد سیف الدین

إیرواندي ترمذي

1426 ه

تحت إشراف وزارة الشؤون الإسلامية

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s