PROFESI DAN ETIKA


PERKEMBANGAN ETIKA PROFESI

A. PENTINGNYA ETIKA PROFESI

Apakah etika, dan apakah etika profesi itu ? Kata etik (atau etika) berasal dari kata

ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai

suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.

Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act as

the performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika

akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian dirupakan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsipprinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. Dengan demikian etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepenringan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

Selanjutnya, karena kelompok profesional merupakan kelompok yang berkeahlian

dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang

berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan

kemahirannya yang tinggi itu hanya dapat dikontrol dan dinilai dari dalam oleh rekan

sejawat, sesama profesi sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat

“built-in mechanism” berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan

untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi

masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan kehlian

(Wignjosoebroto, 1999).

Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya. Tanpa etika profesi, apa yang semual dikenal sebagai sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegradasi menjadi sebuah pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikitpun tidak diwarnai dengan nilai-nilai idealisme dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan tidak-adanya lagi respek maupun kepercayaan yang pantas diberikan kepada para elite profesional ini.

B. PENGERTIAN ETIKA

Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat

internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia

bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan

dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain.

Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing

yang terlibat agara mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan

kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai

dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi

umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.

Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.

Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang

berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku

manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :

– Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam

berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.

– Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah

laku perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang dapat

ditentukan oleh akal.

– Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai

nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika

memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian

tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan

bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang pelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.

Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan

buruknya prilaku manusia :

1. ETIKA DESKRIPTIF, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan

rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam

hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta

sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau

diambil.

2. ETIKA NORMATIF, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan

pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai

sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi

norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.

Etika secara umum dapat dibagi menjadi :

a. ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia

bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori

etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam

bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

Etika umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas

mengenai pengertian umum dan teori-teori.

b. ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam

bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya

mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan

khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral

dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai

perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang

dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara

bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta

prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.

ETIKA KHUSUS dibagi lagi menjadi dua bagian :

a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya

sendiri.

b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku

manusia sebagai anggota umat manusia.

Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan.

Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung

maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadpa

pandangan-pandangana dunia dan idiologi-idiologi maupun tanggung jawab umat

manusia terhadap lingkungan hidup.

Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau

terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang yang paling

aktual saat ini adalah sebagai berikut :

1. Sikap terhadap sesama

2. Etika keluarga

3. Etika profesi

4. Etika politik

5. Etika lingkungan

6. Etika idiologi

SISTEM PENILAIAN ETIKA :

• Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau

jahat, susila atau tidak susila.

• Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah

mendarah daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya

dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi

suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya adalah dari dalam jiwa; dari semasih

berupa angan-angan, cita-cita, niat hati, sampai ia lahir keluar berupa perbuatan

nyata.

• Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3

(tiga) tingkat :

a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa

rencana dalam hati, niat.

b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.

c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.

Dari sistematika di atas, kita bisa melihat bahwa ETIKA PROFESI

merupakan bidang etika khusus atau terapan yang merupakan produk dari

etika sosial. Kata hati atau niat biasa juga disebut karsa atau kehendak, kemauan, wil. Dan isi dari karsa inilah yang akan direalisasikan oleh perbuatan. Dalam hal merealisasikan ini ada (4 empat) variabel yang terjadi :

a. Tujuan baik, tetapi cara untuk mencapainya yang tidak baik.

b. Tujuannya yang tidak baik, cara mencapainya ; kelihatannya baik.

c. Tujuannya tidak baik, dan cara mencapainya juga tidak baik.

d. Tujuannya baik, dan cara mencapainya juga terlihat baik.

C. PENGERTIAN PROFESI

Profesi

Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan

dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga

banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.

Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti

kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai

mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut DE GEORGE, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional.

Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak

atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi. Berikut pengertian profesi dan

profesional menurut DE GEORGE :

PROFESI, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk

menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

PROFESIONAL, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan purna waktu

dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau

seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu

keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut

keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.

Yang harus kita ingat dan fahami betul bahwa “PEKERJAAN / PROFESI” dan

“PROFESIONAL” terdapat beberapa perbedaan :

PROFESI :

– Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.

– Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).

– Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.

– Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.

PROFESIONAL :

– Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.

– Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.

– Hidup dari situ.

– Bangga akan pekerjaannya.

CIRI-CIRI PROFESI

Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :

1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini

dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.

2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap

pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.

3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus

meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.

4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu

berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa

keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk

menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.

5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

Dengan melihat ciri-ciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum

profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas

rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain

pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka

kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan

menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu

kualitas masyarakat yang semakin baik.

PRINSIP-PRINSIP ETIKA PROFESI :

1. Tanggung jawab

– Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.

– Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat

pada umumnya.

2. Keadilan. Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa

yang menjadi haknya.

3. Otonomi. Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri

kebebasan dalam menjalankan profesinya.

SYARAT-SYARAT SUATU PROFESI :

– Melibatkan kegiatan intelektual.

– Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.

– Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan.

– Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.

– Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.

– Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.

– Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

– Menentukan baku standarnya sendiri, dalam hal ini adalah kode etik.

PERANAN ETIKA DALAM PROFESI :

• Nilai-nilai etika itu tidak hanya milik satu atau dua orang, atau segolongan orang

saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling

kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut,

suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan

bersama.

• Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi

landasan dalam pergaulan baik dengan kelompok atau masyarakat umumnya

maupun dengan sesama anggotanya, yaitu masyarakat profesional. Golongan ini

sering menjadi pusat perhatian karena adanya tata nilai yang mengatur dan

tertuang secara tertulis (yaitu kode etik profesi) dan diharapkan menjadi pegangan

para anggotanya.

• Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku sebagian

para anggota profesi yang tidak didasarkan pada nilai-nilai pergaulan yang telah

disepakati bersama (tertuang dalam kode etik profesi), sehingga terjadi

kemerosotan etik pada masyarakat profesi tersebut.

Sebagai contohnya adalah pada profesi hukum dikenal adanya mafia peradilan,

demikian juga pada profesi dokter dengan pendirian klinik super spesialis di

daerah mewah, sehingga masyarakat miskin tidak mungkin menjamahnya.

D. KODE ETIK PROFESI

Kode; yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda

yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu

berita, keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti

kumpulan peraturan yang sistematis.

Kode etik ; yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai

landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

MENURUT UU NO. 8 (POKOK-POKOK KEPEGAWAIAN)

Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam

melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.

Kode etik profesi sebetulnya tidak merupakan hal yang baru. Sudah lama diusahakan

untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat

melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh

seluruh kelompok itu. Salah satu contoh tertua adalah ; SUMPAH HIPOKRATES,

yang dipandang sebagai kode etik pertama untuk profesi dokter.

Hipokrates adalah doktren Yunani kuno yang digelari : BAPAK ILMU

KEDOKTERAN. Beliau hidup dalam abad ke-5 SM. Menurut ahli-ahli sejarah

belum tentu sumpah ini merupakan buah pena Hipokrates sendiri, tetapi setidaknya

berasal dari kalangan murid-muridnya dan meneruskan semangat profesional yang

diwariskan oleh dokter Yunani ini. Walaupun mempunyai riwayat eksistensi yang

sudah-sudah panjang, namun belum pernah dalam sejarah kode etik menjadi

fenomena yang begitu banyak dipraktekkan dan tersebar begitu luas seperti sekarang

ini. Jika sungguh benar zaman kita di warnai suasana etis yang khusus, salah satu

buktinya adalah peranan dan dampak kode-kode etik ini.

Profesi adalah suatu MORAL COMMUNITY (MASYARAKAT MORAL) yang

memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama. Kode etik profesi dapat menjadi

penyeimbang segi-segi negative dari suatu profesi, sehingga kode etik ibarat kompas

yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu

moral profesi itu dimata masyarakat.

Kode etik bisa dilihat sebagai produk dari etika terapan, seban dihasilkan berkat

penerapan pemikiran etis atas suatu wilayah tertentu, yaitu profesi. Tetapi setelah

kode etik ada, pemikiran etis tidak berhenti. Kode etik tidak menggantikan pemikiran

etis, tapi sebaliknya selalu didampingi refleksi etis. Supaya kode etik dapat berfungsi

dengan semestinya, salah satu syarat mutlak adalah bahwa kode etik itu dibuat oleh

profesi sendiri. Kode etik tidak akan efektif kalau di drop begitu saja dari atas yaitu

instansi pemerintah atau instansi-instansi lain; karena tidak akan dijiwai oleh cita-cita

dan nilai-nilai yang hidup dalam kalangan profesi itu sendiri.

Instansi dari luar bisa menganjurkan membuat kode etik dan barang kali dapat juga

membantu dalam merumuskan, tetapi pembuatan kode etik itu sendiri harus

dilakukan oleh profesi yang bersangkutan. Supaya dapat berfungsi dengan baik, kode

etik itu sendiri harus menjadi hasil SELF REGULATION (pengaturan diri) dari

profesi.

Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya

untuk mewujudkan nilai-nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan

pernah bisa dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai-nilai dan citacita

yang diterima oleh profesi itu sendiri yang bis mendarah daging dengannya dan

menjadi tumpuan harapan untuk dilaksanakan untuk dilaksanakan juga dengan tekun

dan konsekuen. Syarat lain yang harus dipenuhi agar kode etik dapat berhasil dengan

baik adalah bahwa pelaksanaannya di awasi terus menerus. Pada umumnya kode etik

akan mengandung sanksi-sanksi yang dikenakan pada pelanggar kode etik.

SANKSI PELANGGARAN KODE ETIK :

a. Sanksi moral

b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi

Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu dewan

kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah

mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis, seringkali kode etik juga berisikan

ketentuan-ketentuan profesional, seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman

sejawat melanggar kode etik. Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self

regulation yang terwujud dalam kode etik; seperti kode itu berasal dari niat profesi

mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi untuk

menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam praktek seharihari

control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam kuat

dalam anggota-anggota profesi, seorang profesional mudah merasa segan melaporkan

teman sejawat yang melakukan pelanggaran. Tetapi dengan perilaku semacam itu

solidaritas antar kolega ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan demikian

maka kode etik profesi itu tidak tercapai, karena tujuan yang sebenarnya adalah

menempatkan etika profesi di atas pertimbangan-pertimbangan lain. Lebih lanjut

masing-masing pelaksana profesi harus memahami betul tujuan kode etik profesi baru

kemudian dapat melaksanakannya.

Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan

lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan

dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci

norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma

tersebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah

sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang

apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa

yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional

TUJUAN KODE ETIK PROFESI :

1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.

2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.

3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.

4. Untuk meningkatkan mutu profesi.

5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.

6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.

7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

8. Menentukan baku standarnya sendiri.

Adapun fungsi dari kode etik profesi adalah :

1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas

yang digariskan.

2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.

3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika

dalam keanggotaan profesi. Etika profesi sangatlah dibutuhkan dlam berbagai

bidang.

Kode etik yang ada dalam masyarakat Indonesia cukup banyak dan bervariasi.

Umumnya pemilik kode etik adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat

nasional, misalnya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), kode etik Ikatan Penasehat

HUKUM Indonesia, Kode Etik Jurnalistik Indonesia, Kode Etik Advokasi Indonesia

dan lain-lain. Ada sekitar tiga puluh organisasi kemasyarakatan yang telah memiliki

kode etik.

Suatu gejala agak baru adalah bahwa sekarang ini perusahaan-perusahan swasta

cenderung membuat kode etik sendiri. Rasanya dengan itu mereka ingin

memamerkan mutu etisnya dan sekaligus meningkatkan kredibilitasnya dan karena

itu pada prinsipnya patut dinilai positif.

2 thoughts on “PROFESI DAN ETIKA”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s