y

~Number Six ~ (End)


CINTA ILAHI

Cinta diarahkan oleh kecerdasan. Karena itu tiap orang memilih obyek cintanya sesuai dengan tingkat evolusinya. Obyek itu tampak baginya paling berhak atas cinta menurut tingkatan evolusinya. Di Timur ada pepatah, “Sebagaimana jiwa, demikianlah malaikatnya.” Keledai lebih menyukai rumput berduri daripada mawar.

Kesadaran yang bangkit di alam materi memiliki obyek cinta hanya pada keindahan duniawi. Kesadaran yang bekerja melalui pikiran menemukan obyeknya dalam gagasan dan di antara orang-orang yang berpikir. Kesadaran yang bangkit melalui hati menyukai cinta dan orang-orang yang mencintai. Kesadaran yang bangkit di dalam jiwa mencintai ruh dan spiritual.

Cinta tanpa kata, yang merupakan inti ilahi di dalam manusia, menjadi aktif dan hidup ketika melihat keindahan. Keindahan dapat dijelaskan sebagai kesempurnaan, kesempurnaan dalam setiap aspek keindahan. Cinta itu sendiri bukanlah Allah atau esensi Allah, tetapi juga keindahan, bahkan dalam aspek yang terbatas, membeberkan diri sebagai perwujudan Keberadaan yang sempurna. Kerajaan mineral berkembang menjadi emas, perak, berlian, dan permata, menunjukkan keindahannya. Buah dan bunga, manis dan harumnya menunjukkan kesempurnaan kerajaan tumbuh-tumbuhan. Bentuk, corak, dan kemudaan menunjukkan kesempurnaan kerajaan hewan. Keindahan kepribadian merupakan kesempurnaan yang nyata di dalam manusia. Beberapa orang di dunia ini hidupnya tenggelam dalam pencarian emas, perak, dan batu permata. Mereka rela mengorbankan apapun dan siapapun untuk memperoleh obyek cinta mereka. Beberapa orang lain hidupnya terserap dalam keindahan buah-buahan, bunga, dan taman. Mungkin mereka tak tertarik obyek lain. Beberapa orang terserap dalam mengagumi keindahan dan kemudaan lawan jenis kelaminnya, dan hal-hal lain tampak tak bernilai. Orang lain terpaku pada keindahan kepribadian seseorang, dan telah sepenuhnya membaktikan diri kepada orang yang mereka cintai baik di sini maupun di hari kelak. Semua orang mempunyai obyek cinta menurut standar keindahannya sendiri, dan setiap orang mencintai kesempurnaan Keberadaan ilahi dalam aspek tertentu. Ketika orang melihat ini, tak seorang pun, bijak atau bodoh, pendosa atau orang baik, tak dapat disalahkan dalam pandangannya. Ia melihat dalam setiap hati jarum kompas yang mengarah ke Keberadaan yang sama. “Allah itu indah dan Dia menyukai keindahan,” seperti disebutkan di dalam Hadits.

Manusia tak pernah mampu mencintai Allah di surga bila simpatinya belum bangkit terhadap keindahan di bumi.

Seorang perawan desa sedang pergi untuk menemui kekasihnya. Ia melewati seorang Mullah yang sedang melakukan shalat. Karena tidak tahu, ia berjalan di depan Mullah itu, suatu hal yang dilarang oleh agama. Mullah itu sangat marah, hingga ketika gadis itu kembali lewat di dekatnya, ia memarahinya. Ia berkata. “Alangkah berdosanya, hai gadis muda, berjalan di depanku ketika aku sedang shalat.” Gadis itu berkata, “Apa artinya shalat?” Dijawab, “Aku sedang memikirkan Allah, Tuhan langit dan bumi.” Gadis itu berkata, “Maafkan aku, aku belum tahu Allah dan shalat bagi- Nya, tetapi tadi aku sedang berjalan menuju kekasihku dan memikirkan kekasihku, hingga aku tak melihatmu sedang shalat. Aku heran bagaimana anda yang sedang memikirkan Allah dapat melihatku?” Perkataan gadis itu sangat berkesan pada Mullah hingga ia berkata, “Sejak saat ini, hai gadis, engkau adalah guruku. Akulah yang harus belajar darimu.”

Suatu ketika seseorang datang kepada Jami dan minta agar dijadikan muridnya. Jami berkata, “Pernahkah engkau mencintai seseorang dalam hidupmu?” Ia menjawab, “Tidak.” Jami berkata, “Kalau begitu, pergilah dan cintailah seseorang, dan kemudian datanglah kepadaku.”

Dengan alasan itulah para guru besar sering mengalami kesulitan dalam membangkitkan cinta kepada Allah di dalam rata-rata manusia. Orang tua memberi boneka kepada anak perempuannya agar anak itu tahu bagaimana memberi pakaian kepadanya, bagaimana menyayanginya, bagaimana menjaganya, bagaimana mencintai dan mengaguminya; hal ini melatih anak agar kelak menjadi ibu yang mencintai. Tanpa latihan ini, yang kemudian akan menjadi sulit. Cinta ilahi merupakan hal yang asing bahwa rata-rata orang karena sentuhan keibuan terhadap anak gadisnya tidak dapat dimainkan secara penuh terhadap boneka.

Seorang murid telah lama melayani pembimbing spiritual, tetapi ia tak membuat kemajuan dan tidak menerima inspirasi. Ia menghadap gurunya dan berkata, “Aku telah melihat banyak sekali murid yang menerima inspirasi, tetapi aku ini begitu malang hingga tak memperoleh kemajuan sama sekali, maka kini aku harus menyerah dan meninggalkanmu.” Guru itu memintanya agar menghabiskan hari-hari terakhir di dalam sebuah rumah tertentu, dan setiap hari ia mengirimkan makanan yang lezat dan berkata agar ia menghentikan latihan spiritual, agar memperoleh kehidupan yang nyaman dan santai. Pada hari terakhir ia mengirimi murid itu sekeranjang buah melalui seorang gadis cantik. Gadis itu menata buah-buahan dan segera pergi meskipun murid itu berusaha untuk menahannya. Kecantikan dan pesonanya sangat besar, hingga murid itu sangat mengagumi dan terpikat olehnya, dan ia tak memikirkan hal-hal lain. Setiap jam dan setiap menit murid itu hanya rindu untuk bertemu lagi dengannya. Kerinduannya bertambah setiap saat. Ia lupa untuk makan, ia dipenuhi air mata dan napas panjang, karena hatinya kini menjadi hangat dan lumer oleh api cinta. Setelah beberapa lama, ketika guru mengunjungi murid itu, dengan satu pandangan ia memberi inspirasi kepadanya. “Baja pun dapat dibentuk bila dipanasi di dalam api,” demikian pula dengan hati yang dilumerkan dengan api cinta.

Ada anggur cinta yang disebut Sherab-i Kauthar, anggur yang terdapat di dalam surga. Ketika mabuk cinta meningkat di dalam manusia, ia disebut cinta buta atau gila dalam cinta, karena orang yang melihat ilusi di permukaan menganggap diri sendiri-lah yang sadar dan terjaga. Tetapi keterjagaan mereka adalah terhadap tipuan, bukan terhadap realita. Meskipun pecinta disebut gila, kegilaannya terhadap satu obyek dunia ilusi akan membuatnya secara bertahap terbebas dari semua tipuan di sekelilingnya. Bila ia berhasil, ia akan menikmati penyatuan dengan kekasihnya di dalam visi bahagianya. Maka dengan seketika tersingkaplah selubung [hijab] yang menutupi pandangannya terhadap obyek yang dicintainya. Al Qur’an menyebutkan, “Kami akan mengangkat hijab dari matamu dan pandanganmu akan menjadi tajam.”

Secara alami, seorang pecinta terobsesi oleh seseorang yang dikaguminya, yang ia ingin bersatu dengannya. Tetapi tak ada satu obyek pun di dunia ini yang sempurna hingga dapat memuaskan keinginan hati yang mencintai. Ini merupakan batu penghalang yang menyebabkan setiap pemula gagal dalam mencintai. Pejalan yang berhasil di jalur cinta adalah orang-orang yang cintanya begitu indah hingga memberi keindahan yang tidak didapat di dalam idaman mereka. Dengan melakukan ini, pada saatnya pecinta akan terangkat ke atas keindahan kekasih yang berubah- ubah dan terbatas, tetapi mulai melihat ke dalam keberadaan terdalam kekasihnya. Dengan kata lain, bagian luar kekasih hanyalah sarana untuk menarik cinta dari hati pecinta, tetapi cinta itu mengantarkannya dari luar ke lapisan terdalam dari kesempurnaan cintanya. Bila di dalam idaman itu pecinta telah merasakan keberadaan yang tak terbatas dan sempurna, apakah ia mencintai manusia atau Allah, sesungguhnya ia adalah pecinta yang sempurna.

Di sini perjalanan melalui jalur idealisme berakhir, dan perjalanan melalui kesempurnaan ilahi dimulai, karena kesempurnaan Allah diperlukan bagi pencapaian kesempurnaan hidup. Kemudian manusia mencari obyek cinta yang sempurna, mengidealkan Allah, Keberadaan tunggal, Yang Tak Terhingga, yang berada di atas semua cahaya dan kegelapan dunia, di atas baik dan buruk, yang bebas dari semua keterbatasan, bebas dari kelahiran dan kematian, tak berubah, tak terpisahkan dari kita, Maha meliputi (berada), selalu hadir di depan mata pecinta-Nya.

Bila cinta itu sejati, ia melenyapkan pementingan diri sendiri, karena ini merupakan satu-satunya solusi untuk menghapus ego. Ungkapan “jatuh cinta” [fall in love] membawa gagasan sifat cinta yang sesungguhnya. Benar-benar jatuh dari ketinggian ego ke tanah ketiadaan, tetapi sekaligus kejatuhan ini akan membuatnya naik, karena seberapa dalamnya pecinta jatuh, sedemikian pula tingginya ia akan meningkat pada akhirnya. Pecinta yang jatuh dalam cinta adalah seperti benih yang jatuh ke tanah. Keduanya tampak rusak, tetapi keduannya pada saatnya akan tumbuh bersemi dan menghasilkan buah bagi dunia yang senantiasa lapar.

Musuh terbesar manusia adalah ego-nya, gagasan mengenai diri sendiri. Ini merupakan kuman yang menghasilkan semua keburukan dalam manusia. Perbuatan baik seorang egois berubah menjadi dosa, dan dosa kecilnya berubah menjadi kejahatan besar. Semua agama dan filsafat mengajar manusia untuk menindasnya, dan tak ada alat yang dapat melumatkannya dengan lebih baik daripada cinta. Tumbuhnya cinta adalah kematian ego. Cinta yang sempurna sepenuhnya membebaskan pecinta dari pementingan diri sendiri, karena cinta dapat disebut juga dengan peniadaan [annihilation]. “Sesiapa yang memasuki sekolah cinta, pelajaran pertama yang diterima adalah menjadi bukan apa-apa.”

Bersatu tidak mungkin tanpa cinta, karena hanya cinta yang dapat mempersatukan. Setiap ungkapan cinta menandakan pencapaian penyatuan dengan obyeknya, dan dua obyek tak dapat bersatu kecuali salah satunya menjadi bukan apa-apa. Tak seorang pun mengetahui rahasia hidup ini kecuali pecinta. Iraqi berkata, “Ketika aku tanpa cinta pergi ke Ka’bah dan mengetuk pintu gerbang, sebuah suara datang: ‘Apa yang engkau lakukan di rumahmu hingga engkau datang ke sini?’ Dan ketika aku pergi, karena aku lenyap dalam cinta, dan mengetuk pintu gerbang Ka’bah, datanglah suara: ‘Datanglah, datanglah hai Iraqi, engkau adalah bagian dari kami.'”

Bila ada sesuatu yang melawan kebanggaan ego, ia adalah cinta. Sifat cinta adalah berserah diri. Dunia keragaman yang membagi kehidupan menjadi bagian-bagian yang terbatas, menyebabkan setiap yang lebih kecil berserah diri kepada yang lebih besar. Setiap yang lebih besar, baginya masih ada sesuatu yang lebih besar darinya; dan bagi setiap yang lebih kecil masih ada yang lebih kecil darinya. Sebagaimana setiap jiwa secara alami cenderung untuk berserah kepada kesempurnaan dalam semua tingkatan, satu-satunya masalah adalah apakah ia mau atau tidak mau berserah diri. Yang pertama datang dari cinta, yang kedua datang dari ketakberdayaan yang membuat hidup susah. Para Sufi tersentuh ketika membaca di dalam Al Qur’an bahwa Keberadaan sempurna bertanya kepada jiwa-jiwa yang tak sempurna, anak-anak Adam, “Siapakah Tuhanmu?” Menyadari ketidaksempurnaannya, mereka menjawab dengan merendah, “Engkaulah tuhanku.” Maka berserah diri adalah kutukan, bila orang dipaksa untuk menyerah dengan dingin. Tetapi hal yang sama menjadi kegembiraan yang terbesar bila dilakukan dengan cinta dan dengan sukarela.

Cinta merupakan praktek moral Suluk, jalan kebaikan. Kegembiraan pecinta berada di dalam ridha kekasihnya. Pecinta puas bila kekasih terpuaskan. “Siapa yang dalam hidup memberkahi orang yang mengutuknya? Siapa yang dalam hidup mengagumi orang yang membencinya? Siapa yang dalam hidup setia kepada orang yang tak setia? Tak lain dari seorang pecinta.” Dan pada akhirnya diri pecinta lenyap dari pandangannya, hanya wajah kekasih, wajah yang dirindukan, yang ada di depannya selamanya.

Cinta adalah inti semua agama, mistisisme, dan filsafat, dan orang yang telah belajar cinta ini telah memenuhi tujuan agama, etika dan filsafat, dan pecinta itu terangkat ke atas semua ragam agama dan kepercayaan.

Suatu saat Musa memohon kepada Tuhan bani Israel di gunung Sinai, “Hai Tuhan, Engkau telah begitu besar memberi kehormatan kepadaku dengan menjadikan aku utusan-Mu. Bila masih ada kehormatan yang lebih besar, aku mohon Engkau datang ke rumahku dan membelah roti di

mejaku.” Maka datang jawaban, “Musa, dengan senang hati Kami akan datang ke rumahmu.” Musa menyiapkan makanan yang lezat dan menunggu dengan penuh harap kedatanggan Allah. Kebetulan, di depan pintu rumahnya lewat seorang pengemis yang berkata, “Musa, aku sakit dan lelah, aku tidak makan selama tiga hari dan aku hampir mati. Berilah aku sepotong roti dan selamatkan nyawaku.”

Karena sangat berharap atas kedatangan Allah, Musa berkata kepada pengemis itu, “Tunggu, engkau akan kuberi lebih dari sepotong, dan makanan lain yang enak. Aku menunggu kedatangan tamu yang akan datang petang ini. Bila ia telah pergi, maka semua yang tersisa akan kuberikan kepadamu agar engkau dapat membawanya pulang.” Orang itu pergi dan waktu berlalu, tetapi Allah tidak datang, maka Musa kecewa. Keesokan harinya Musa pergi ke Sinai dan menangis, “Tuhanku, aku tahu Engkau tidak mengingkari janji, tetapi dosa apa yang aku lakukan hingga Engkau tidak datang seperti Engkau janjikan?” Allah berkata kepada Musa, “Kami datang, hai Musa, tetapi sayang, engkau tak mengenali Kami. Siapa pengemis di depan pintumu? Apakah ia bukan Kami? Kami-lah yang berada di dalam semua bentuk yang hidup dan bergerak di dunia, namun kami jauh di dalam langit abadi Kami.”

Keragaman dapat terjadi dalam agama-agama, tetapi motif dari semuanya adalah satu: menyuburkan dan menyiapkan hati manusia bagi cinta ilahi. Kadang-kadang ruh pembimbing menarik perhatian manusia agar melihat dan mengagumi keindahan Allah di langit, kadang-kadang di dalam pohon dan batu, membuatnya menjadi pohon sakral, gunung suci, dan sungai yang menyucikan. Kadang-kadang ia menuntun perhatian manusia agar melihat keberadaan Allah di antara hewan dan burung-burung, dengan menyebut mereka hewan suci, burung sakral. Ketika manusia menyadari bahwa tak ada ciptaan yang lebih tinggi dari dirinya, ia berhenti menyembah ciptaan yang lebih rendah, karena mengenali cahaya ilahi yang menjelma di dalam manusia. Maka, dalam tahapan evolusi manusia, dunia melihat Allah di dalam manusia, terutama di dalam orang suci yang berkesadaran Allah.

Manusia dengan diri yang terbatas tak dapat melihat Allah, keberadaan yang sempurna, dan bila ia mampu menggambarkan-Nya, gambaran yang terbaik adalah manusia. Bagaimana ia dapat membayangkan sesuatu yang belum pernah diketahuinya? “Kami menciptakan manusia menurut gambar Kami sendiri.” Krishna bagi orang Hindu, Buddha bagi para Buddhis, adalah Allah bagi manusia. Para malaikat tak pernah digambarkan dengan bentuk selain manusia. Bahkan penyembah Allah yang tak berbentuk telah mengidealkan Allah dengan kesempurnaan atribut manusia, meskipun ini hanya merupakan tangga untuk mencapai cinta dari Allah yang sempurna, yang diperoleh secara bertahap.

Hal ini dijelaskan dalam kisah masa lalu. Suatu ketika Musa berjalan melalui sebuah padang ternak dan melihat seorang anak gembala berbicara kepada diri sendiri “Ya Tuhan, Engkau begitu baik hingga aku merasa bila Engkau berada di sini, aku akan menjagamu dengan lebih baik dari pada semua kambingku, lebih dari semua ayamku. Bila hujan aku akan menempatkan-Mu di bawah atap ilalang, bila dingin aku akan menutup diri-Mu dengan selimutku, dan bila panas matahari menyengat aku akan membawamu mandi di sungai. Aku akan membawamu tidur dengan kepala-Mu di pangkuanku, aku akan mengipasimu dengan topiku, dan akan selalu mengawasimu dan menjagamu dari serigala. Aku akan memberimu roti untuk makan dan susu untuk minum, dan untuk menghiburmu aku akan menyanyi dan menari dan memainkan serulingku. Ya Tuhanku, bila Engkau mendengarkan ini, datanglah dan lihat bagaimana aku akan memanjakan-Mu.”

Musa terkejut mendengar semua itu, dan, sebagai pengantar pesan ilahi, ia berkata, “Alangkah kurangajarnya engkau, hai anak gembala, dengan membatasi Dia yang tak berbatas, Allah, Tuhan alam semesta, yang tak berbentuk, tak berwarna dan tak dapat ditangkap dengan pemahaman manusia.” Anak gembala itu sedih dan takut atas apa yang telah dilakukannya. Namun kemudian datang wahyu kepada Musa: “Kami ridha dengan perbuatannya, hai Musa, karena Kami telah

mengutusmu untuk mempersatukan keberadaan Kami yang terpisah-pisah dengan Kami, bukan untuk mencerai-beraikan. Berkatalah kepada setiap orang menurut tingkatan evolusinya.”

Hidup di dunia penuh dengan kebutuhan, tetapi di antara berbagai kebutuhan, kebutuhan akan sahabat adalah yang terpenting. Tiada kesedihan yang lebih besar dari kesedihan orang yang tak berteman. Bumi ini akan berubah menjadi surga bila seseorang menginginkan teman dalam hidup. Namun surga, dengan semua kesenangan yang diberikannya, akan menjadi neraka bila tak ada teman yang dicintai.

Jiwa yang berpikir selalu mencari persahabatan yang berlangsung lama. Orang bijak lebih menyukai seorang teman yang mau berjalan bersamanya dalam sebagian besar perjalanan hidupnya. Miniatur dari perjalanan hidup kita dapat dilihat pada perjalanan biasa. Bila ketika kita pergi ke Swiss, kita berteman dengan seseorang yang membeli tiket ke Bombay, maka kebersamaan dengannya akan berlangsung beberapa lama, dan sesudah itu, di sepanjang sisa perjalanan kita akan pergi sendirian. Setiap persahabatan di dunia hanya akan berlangsung sebentar dan akan berhenti. Karena perjalanan kita akan melampaui kematian, bila ada persahabatan yang kekal, maka persahabatan itu hanyalah dengan Allah, yang tak berubah dan tak berakhir. Tetapi bila kita tak dapat melihat dan tak dapat menangkap keberadaan-Nya, tak mungkin kita berteman dengan seseorang yang tak kita sadari. Dengan Allah sebagai satu- satunya sahabat, persahabatan dengan-Nya adalah satu-satunya persahabatan di dunia yang dapat menuntun kita kepada Kekasih ilahi. Banyak di antara para Sufi yang mencapai kesempurnaan Allah melalui Rasul, manusia ideal. Dan orang mencapai pintu Rasul melalui Syekh, mursyid atau pembimbing spiritual, yang jiwanya terfokus kepada ruh Rasul sehingga terkesan oleh kualitasnya. Jalan ini menjadi jelas bagi para pejalan di jalur pencapaian Kekasih ilahi.

Persahabatan dengan Syekh tak punya motif selain bimbingan dalam mencari Allah. Persahabatan itu akan berlangsung selama anda ada, selama anda mencari Allah, selama bimbingan diperlukan. Persahabatan dengan Syekh disebut Fana-fi-Syekh, dan ini kemudian berubah menjadi persahabatan dengan Rasul. Bila murid menyadari keberadaan kualitas spiritual mursyid yang lebih dari manusia biasa, itulah saatnya ia siap untuk Fana-fi-Rasul.

Persahabatan dengan Syekh adalah persahabatan dengan bentuk, dan bentuk itu dapat lenyap. Orang mungkin berkata, “Aku punya seorang ayah, tetapi sekarang sudah tiada.” Sesungguhnya, kesan tentang ayahnya masih ada di dalam pikirannya. Kebaktiannya kepada Rasul adalah seperti itu. Nama dan kualitasnya masih ada meskipun bentuk fisiknya telah lenyap dari bumi. Rasul adalah personifikasi dari cahaya bimbingan yang diidealkan murid menurut tingkatan evolusinya. Kapan pun murid itu mengingatnya, di darat, di udara air, di dasar laut, ia hadir bersamanya. Kebaktian kepada Rasul merupakan tahapan yang tak dapat diabaikan dalam pencapaian cinta ilahi. Tahapan ini disebut Fana-fi-Rasul.

Setelah itu datanglah Fana-fi-Allah, ketika cinta kepada Rasul tenggelam ke dalam cinta kepada Allah. Rasul adalah Guru yang diidealkan karena atributnya yang dicintai, kebaikannya, kesuciannya, kasihnya. Keutamaannya dapat dipahami. Bentuknya tak diketahui, hanya namanya yang menunjukkan kualitasnya. Tetapi Allah adalah nama yang diberikan kepada kesempurnaan ideal di mana semua keterbatasan lenyap, dan dalam Allah ideal itu berakhir.

Seseorang tak kehilangan persahabatan dengan mursyid atau dengan Rasul, tetapi ia melihat mursyid di dalam Rasul dan melihat Rasul di dalam Allah. Kemudian untuk memperoleh bimbingan, untuk memperoleh nasihat, ia hanya mencarinya dari Allah saja.

Ada kisah mengenai Rabiah, seorang Sufi besar, bahwa ia pernah melihat Muhammad dalam visinya dan ia ditanya oleh Nabi, “Hai Rabiah, siapa yang kau cintai?” Ia menjawab, “Allah.” Nabi

berkatka, “Bukan Rasul-Nya?” ia menjawab, “Hai Guru yang diberkahi, siapa di dunia ini yang mengetahuimu tetapi tak mencintaimu? Tetapi kini hatiku begitu tenggelam dalam Allah hingga aku tak dapat melihat sesuatu kecuali Dia.”

Bagi mereka yang melihat Allah, Rasul dan Mursyid lenyap dari pandangan. Mereka hanya melihat Allah di dalam Mursyid dan Rasul. Mereka melihat segala sesuatu sebagai Allah dan tak melihat yang lain.

Dengan kebaktian kepada mursyid, murid belajar mencintai, berdiri dengan kerendahan anak kecil, pada wajah setiap makhluk di bumi ia melihat bayangan wajah mursyidnya. Bila Rasul yang diidealkan, ia melihat semua yang indah terefleksi di dalam kesempurnaan Rasul yang tidak tampak.Kemudian ia menjadi independen bahkan dari keutamaan, yang juga memiliki kutub yang berseberangan, dan pada kenyataannya tidak ada, karena itu hanya perbandingan yang membuat sesuatu lebih baik daripada yang lain. Ia hanya mencintai Allah, kesempurnaan yang ideal, yang tak dapat dibandingkan. Kemudian ia sendiri berubah menjadi cinta, dan karya cinta telah diselesaikan. Kemudian pecinta sendiri berubah menjadi sumber cinta, asal cinta, dan ia hidup dalam kehidupan Allah, yang disebut Baqa bi-Allah. Kepribadiannya menjadi kepribadian ilahi. Kemudian pikirannya menjadi pikiran Allah, perkataannya menjadi perkataan Allah, perbuatannya menjadi perbuatan Allah, dan ia sendiri menjadi cinta, pecinta, dan kekasih sekaligus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s