Kebijakan Ilahi di Balik Penyakit


16Kebijakan Ilahi di Balik Penyakit

 

Orang yang tinggal di dalam masyarakat yang bodoh terus-menerus membuat rencana masa depan  dan berharap agar rencana-rencana itu berjalan sesuai keinginannya. Akan tetapi, yang terjadi malah sebaliknya, penyakit yang tidak diharapkan datang atau kecelakaan fatal melemparkan hidupnya ke dalam kehancuran karena kejadian-kejadian tersebut tidak termasuk dalam rencana masa depannya.

Saat menikmati kesehatan, banyak orang tidak pernah berpikir bahwa kejadian tersebut–walau sering terjadi pada ribuan orang lain setiap harinya-dapat terjadi pada mereka juga.

Itulah sebabnya, saat berhadapan dengan kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, orang yang bodoh dengan segera menjadi kurang bersyukur terhadap Pencipta mereka. Mereka menolak kenyataan takdir seraya mengatakan, “Mengapa ini terjadi pada diriku?” Orang yang jauh dari akhlaq Al-Qur`an cenderung enggan menyerahkan kepercayaan kepada Allah saat mereka sakit atau tertimpa kecelakaan, atau mencari kebaikan dalam peristiwa yang menimpa mereka.

Beberapa orang yang tidak  mengerti realitas  takdir menganggap bahwa penyebab pernyakit hanyalah   virus  atau  mikroba.  Demikian  pula  saat  kecelakaan  lalu  lintas,  mereka  menganggap supirnyalah yang  menyebabkan kecelakaan tersebut. Bagaimanapun, yang benar adalah sebaliknya. Setiap penyebab penyakit, seperti mikroba, bakteri, ataupun yang membahayakan manusia, semua itu sebenarnya adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah untuk tujuan-tujuan tertentu. Tak ada satu pun dari  mereka  yang  dibuat  secara  serampangan.  Mereka  semua  bertindak  di  bawah  kendali  Allah. Manusia mudah diserang mikroba karena  Allah menginginkannya demikian. Jika seorang manusia menderita sakit keras karena virus, hal itu terjadi  dengan sepengetahuan Allah. Jika sebuah mobil menabrak seseorang dan membuat orang tersebut cacat,  kejadian ini juga merupakan peristiwa yang terjadi  atas  izin  Allah.  Tak  peduli  dengan  cara  apa  pun  dia  menghindar, dia  tidak  akan  pernah mengubah kejadian tersebut, bahkan bagian terkecilnya sekalipun. Ia tidak dapat memindahkan bagian kecil takdir mereka karena takdir diciptakan dalam kesatuan. Bagi seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Yang Mahakuasa dan mereka yang percaya kepada kebijaksanaan dan kasih-Nya yang tak terbatas, kecelakaan, penyakit, atau kesengsaraan, semuanya adalah cobaan sementara yang menuntun kepada kebahagiaan tertinggi.

Dalam situasi yang demikian, yang penting adalah kualitas moral yang baik yang melekat dalam diri seseorang. Penyakit dan kecelakaan adalah peristiwa yang bisa dijadikan kesempatan bagi orang- orang beriman untuk menunjukkan kesabaran dan akhlaq yang baik. Mereka mendekatkan diri kepada Allah. Di dalam  Al-Qur`an, Allah berfirman tentang penyakit yang dihubungkan dengan pentingnya kesabaran melalui saat-saat demikian.

“… sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat- malaikat,  kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (al-Baqarah: 177)

Seperti yang telah disebutkan di awal, kenyataan bahwa di dalam ayat ini, penyakit juga termasuk dalam  kesengsaraan karena  pertimbangan-pertimbangan  tertentu. Seseorang yang  dihadapkan pada dilema  fisik  atau  tertimpa  kecelakaan,  ia  harus  ingat  bahwa  semua  itu  adalah  cobaan  untuknya walaupun ia tidak dapat segera menemukan alasan mengapa dirinya tertimpa musibah itu. Ia harus ingat

bahwa hanya Allahlah yang memberikan penyakit dan obatnya. Ini sangat penting untuk memelihara sikap  moral yang tepat. Mungkin ia harus melalui kesulitan sementara sebagai seorang hamba yang memiliki  kepasrahan penuh kepada Tuhannya. Di akhirat nanti, ia akan dibalas dengan kebahagiaan yang abadi.

Kita semua perlu mengingat bahwa bagaimanapun juga, penting bagi kita untuk mengingat hal ini, juga untuk memelihara moralitas tertinggi saat berhadapan dengan kejadian serupa. Hingga detik ini, kita perlu  mengetahui bahwa semua penyakit diciptakan dengan maksud-maksud tertentu. Jika Allah menghendaki,  seseorang bisa saja tidak akan pernah sakit atau menderita. Akan tetapi, jika seseorang diberi ujian, ia harus  sadar bahwa semua itu memiliki maksud. Semua itu membantunya untuk memahami kesementaraan dunia ini dan kekuasaan Allah yang luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s