Allah Menguji Manusia dengan Hilangnya Harta Benda


 

Kebanyakan manusia bertujuan menumpuk kekayaan sebanyak mungkin dalam hidupnya. Untuk tujuan  ini, mereka melakukan apa pun, bahkan dengan cara yang haram dan tidak sah. Pandangan manusia  manusia  terhadap harta kepemilikan  dijelaskan di  dalam Al-Qur`an sebagai cinta  karena perhiasan hidup di dunia.

IMG_0098

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:  wanita-wanita,  anak-anak,  harta  yang  banyak  dari  jenis  emas,  perak,  kuda  pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)” (Ali Imran: 14)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal  lagi  saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (al-Kahfi: 46)

Dalam ayat lain, Allah menunjuk sebagian orang dengan mengatakan, “Dan kamu mencintai harta  benda  dengan  kecintaan  yang  berlebihan.”  (al-Fajr:  20)  Dari  ayat  tersebut,  kita  dapat memahami bahwa orang yang bodoh sangat membutuhkan harta kekayaan karena ia adalah salah satu ukuran status sosial yang paling utama yang nilainya tidak didasarkan oleh agama. Dalam masyarakat yang kacau ini, orang  memuja, menghormati, dan menjunjung tinggi kekayaan. Dengan mencapai kekayaan tertentu, seseorang merasa bahwa ia memegang kekuasaan yang besar. Karena itu, dalam hal ini, mencapai kekayaan menjadi tujuan utamanya dalam hidup.

Hasrat menggebu akan harta kekayaan juga membawa manusia kepada ketakutan sepanjang hidup  akan hilangnya harta. Mereka yang memiliki pandangan demikian biasanya menjadi putus asa saat kehilangan harta kekayaan, lalu mereka menjadi pemberontak terhadap Tuhannya. Menjadi orang yang benar-benar bodoh itu hanyalah sebuah ujian, mereka benar-benar kewalahan karena kehilangan kekayaan.

Bagaimanapun juga, Allah telah memerintahkan manusia, “Jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan- Nya  kepadamu.” (al-Hadiid: 23) Ia memerintahkan manusia untuk hidup sederhana dan menyerap akhlaq-akhlaq yang baik. Berputus asa atas hilangnya kekayaan dan bersukacita dalam kekayaan adalah tanda tidak bersyukur kepada Allah.

Di bawah pengaruh pandangan tersebut, sebagian masyarakat yang bodoh menganggap boleh- boleh saja merasa kecewa akan hilangnya harta kekayaan. Sebagai contoh, kenyamanan ekonomi yang dinikmati dari  kekayaan yang didapat dari usaha keras kita bisa saja lenyap dengan tiba-tiba karena bencana alam; atau, kebakaran dapat menghancurkan sebuah rumah dalam sekejap mata saja, padahal rumah bagus itu didapatkan  setelah menabung bertahun-tahun. Pada dasarnya, seseorang yang tidak menyadari fitrah hidupnya akan merasa  kebingungan saat ia mengalami kehilangan yang berarti. Ia menjadi lelah karena keputusasaan dan pemberontakannya terhadap Allah.

Hal-hal  yang  jauh  dari  akhlaq  Al-Qur`an  tidak  akan  berhasil  selamanya,  bahkan  untuk mengetahui bahwa hilangnya kekayaan bisa saja memiliki tujuan yang baik atau berakibat positif. Hal ini karena pandangan dan ketidakmampuannya untuk memercayai Allah menjadikan dirinya terbebani secara emosional akibat tekanan ekonomi

Bagaimanapun juga, perubahan kondisi ekonomi ini dapat segera memberikan manfaat. Sebagai contoh,   mungkin  ada  baiknya  kecelakaan  terjadi  pada  mobil  seseorang  karena  bisa  jadi  Allah melindungi pengendaranya dari kecelakaan yang lebih fatal lagi. Seorang yang hati-hati akan melihat kecelakaan tersebut sebagai peringatan, kemudian ia memohon ampun serta menerima takdir yang telah ditetapkan Allah untuknya.

Sumber :info harunyahya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s