Teknologi Pada Mata dan Telinga


Masalah lain yang tetap tidak terjawab oleh teori evolusi adalah sifat-sifat sempurna dari persepsi mata dan telinga.

Sebelum memasuki pembahasan mengenai mata, mari sekilas kita jawab pertanyaan “bagaimana kita melihat”. Cahaya datang dari sebuah objek yang jatuh berseberangan dengan retina mata. Disinilah cahaya ditransmisikan menjadi sinyal elektris oleh sel dan kemudian mencapai titik kecil di belakang otak yang disebut pusat pengelihatan. Sinyal-sinyal elektris ini diterima di pusat otak sebagai sebuah imej (gambar) setelah melalui serangkaian proses. Dengan latar belakang teknik ilmiah, kita berpikir.

16

Otak terisolasi dari cahaya. Itu berarti bahwa di dalam otak situasinya benar-benar gelap, dan cahaya  tidak sampai ke otak. Yang dinamakan pusat pengelihatan adalah sebuah tempat yang benar- benar pekat dimana tak ada cahaya yang dapat masuk. Mungkin otak adalah tempat paling gelap yang pernah kita tahu. Anda mengamati dunia yang terang benderang dalam kegelapan total ini.

Gambar yang terbentuk di dalam mata sangatlah tajam dan jelas, bahkan teknologi abad ke-20 sekalipun  tidak dapat menciptakan gambar yang sedemikian jelas. Sebagai contoh, buku yang Anda baca, tangan yang Anda pakai untuk memegangnya. Coba Anda angkat kepala dan lihatlah sekeliling Anda. Pernahkah anda melihat sebuah gambar setajam dan sejelas itu di tempat lain? Bahkan layar TV tercanggih yang dihasilkan oleh  pabrik TV terbesar di dunia sekalipun, tidak dapat menghasilkan sebuah gambar yang tajam. Gambar yang  didapat dari mata ini adalah gambar tiga dimensi yang berwarna dan sangat tajam. Lebih dari seratus tahun  ratusan insinyur telah mencoba mendapatkan ketajaman  gambar  seperti  ini.  Pabrik-pabrik  dan  gedung-gedung  raksasa  dibangun,  banyak  riset dilakukan, rencana dan desain telah dibuat untuk tujuan ini.  Sekali lagi, lihatlah layar TV dan buku yang Anda pegang. Anda akan melihat ada perbedaan yang sangat  mencolok pada ketajaman dan kejelasannya. Terlebih lagi, layar TV hanya dapat memberikan gambar tiga dimensi, sementara dengan mata Anda bisa melihat perspektif tiga dimensi yang memiliki kedalaman.

Selama bertahun-tahun, puluhan dari ratusan insinyur telah mencoba membuat TV tiga dimensi, dan mencapai kualitas gambar seperti yang dihasilkan oleh mata. Ya, mereka berhasil membuat TV tiga dimensi, tetapi tak mungkin melihatnya tanpa menggunakan kacamata. Terlebih lagi, gambar tersebut hanyalah gambar tiga  dimensi buatan. Latarnya lebih buram, gambar depannya muncul seperti latar kertas. Tidak mungkin menghasilkan gambar yang tajam dan jelas seperti yang dihasilkan oleh mata. Kamera maupun TV tidak sempurna kualitas gambarnya.

Para evolusionis mengklaim bahwa mekanisme yang memproduksi gambar yang tajam dan jelas ini  terbentuk secara kebetulan. Sekarang, jika  seseorang mengatakan bahwa TV di ruangan Anda terbentuk  secara  kebetulan,  bahwa  semua  atom  yang  membentuknya  terjadi  begitu  saja,  bersatu menciptakan  alat-alat  yang  memproduksi  gambar  ini,  bagaimanakah  menurut  Anda?  Bagaimana mungkin atom-atom tersebut melakukan apa yang tidak bisa dilakukan manusia?

Jika sebuah alat yang menghasilkan sebuah gambar saja tidak mungkin terjadi secara kebetulan, maka ini adalah bukti yang sangat kuat bahwa mata dan gambar yang terlihat oleh mata tidak mungkin terbentuk secara  kebetulan. Hal yang sama terjadi pada telinga kita. Telinga bagian luar menangkap suara yang ada dengan daun telinga dan mengirimkannya ke telinga bagian tengah, kemudian getaran suara  ini  dikirimkan dengan  menguatkannya. Telinga bagian dalam mengirim getaran ini  ke otak dengan  menguatkannya  menjadi  sinyal-sinyal  elektrik.  Seperti  halnya  mata,  tindakan  mendengar berakhir di pusat pendengaran di otak.

Hal yang terjadi pada mata juga terjadi pada telinga. Otak terisolasi dari suara seperti halnya cahaya;  tak ada suara di dalam otak. Karena itu, tak peduli betapa bisingnya di luar, di dalam otak benar-benar  hening.  Meski demikian, suara-suara yang paling tajam diterima di otak. Di dalam otak Anda yang terisolasi dari suara, Anda mendengarkan simfoni sebuah orkerstra, dan semua kebisingan di tempat ramai. Bagaimanapun juga, jika tingkat suara di dalam otak Anda diukur dengan alat pengukur pada saat itu, akan terlihat bahwa otak Anda benar-benar sunyi.

Seperti halnya gambar, telah dilakukan usaha-usaha selama beberapa dekade untuk menghasilkan suara yang benar-benar asli. Hasilnya adalah rekaman suara, sistem rekaman yang sangat teliti dan asli, serta sistem untuk mendeteksi suara. Meskipun semua teknologi ini dan ratusan insinyur serta ahli telah berusaha keras, tak ada satu pun suara yang dihasilkan memiliki ketajaman dan kejernihan suara yang diterima  oleh  telinga.  Coba   pikirkan  sistem  rekaman  dengan  kualitas  terbaik  yang  dihasilkan perusahaan industri musik terbesar. Bahkan dengan peralatan itu, ketika suara direkam, sebagiannya ada yang hilang. Atau jika Anda menyalakan sebuah rekaman, Anda akan selalu mendengar suara mendesis sebelum musik dimulai. Bagaimanapun, suara-suara yang dihasilkan oleh tubuh manusia benar-benar tajam dan jelas. Telinga manusia tidak pernah  menerima suara yang disertai desisan seperti halnya rekaman. Telinga manusia menerima suara tepat seperti suara itu, tajam dan jernih. Demikianlah yang terjadi sejak penciptaan manusia.

Sejauh ini, tak ada alat penghasil gambar dan perekam yang diproduksi manusia memiliki data sensor yang sesensitif dan sehebat mata dan telinga manusia.

Bagaimanapun juga, semakin kita mengamati tindakan melihat dan mendengar, semakin besar fakta yang tersembunyi di balik hal-hal tersebut.

Milik Siapakah Kesadaran yang Melihat dan Mendengar Di dalam Otak?

Siapakah yang mengamati sebuah dunia yang memikat di dalam otak, mendengarkan simfoni dan kicau burung, serta harumnya mawar?

Rangsangan yang datang dari mata, telinga, dan hidung manusia berjalan ke otak sebagai impuls syaraf elektris-kimiawi. Dalam ilmi biologi, psikologi, dan biokimia, Anda dapat menemukan banyak rincian tentang bagaimana gambar buku terbentuk di otak. Anda tidak akan pernah menemukan fakta yang penting tentang hal  ini: Siapakah yang menerjemahkan impuls syaraf elektris-kimia ini sebagai gambar, suara, bau, dan peristiwa sensorik di otak? Ada kesadaran di dalam otak yang menyerap semua itu tanpa memerlukan mata, telinga dan hidung. Milik siapakah kesadaran ini? Tak ada lagi keraguan bahwa kesadaran ini bukanlah berada di dalam saraf, lapisan tebal, dan neuron yang membentuk otak. Inilah mengapa materialis-Darwinis yang yakin bahwa segala sesuatu diperbandingkan dengan materi, tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Itu karena kesadaran ini adalah ruh yang dicitakan Allah. Ruh yang tidak membutuhkan mata untuk melihat ataupun telinga untuk mendengar suara. Lebih jauh lagi, ruh ini tidak membutuhkan otak untuk berpikir.

Setiap orang yang membaca fakta ilmiah yang jelas ini harus merenungkan kekuasaan Allah, harus  takut dan memohon perlindungan pada-Nya. Ia yang memasukkan seluruh alam dalam bentuk tiga dimensi yang berwarna, berbayang dan bercahaya ini dalam sebuah tempat yang sangat gelap sebesar hanya beberapa sentimeter kubik. wallahu a’lam

sumber : info@harun yahya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s